JAWA Di Mangertosi kawruh basa jawi boten badhe rugi, awit kathah sanget atur
lan pitutur, wewarah lan wewaler ingkang rupi sandi lan sasmita ingkang kaserat
ing tembang, parikan, sesanti, bebasan, saloka, lan sapanunggalipun. Jarwane
sadaya sasmita kala wau saged kawedhar menawi kula lan panjenengan mangertosi
kagunan jawi utawi kawruh basa jawi. ▼ Ha Na Ca Ra Ka Ada sebuah kisah Da Ta Sa
Wa La Terjadi sebuah pertarungan Pa Dha Ja Ya Nya Mereka sama-sama sakti Ma Ga
Ba Tha Nga Dan akhirnya semuanya mati Aksara Hanacaraka yang kita kenal sekarang
9may2023 Prabu Ajisaka Dan Aksara Jawa Asal Mula Aksara Jawa Tidak banyak yang
tahu sejarah aksara Jawa. Aksara Jawa sangat berkaitan dengan sejarah dari
Ajisaka. Sang Ajisaka itulah yang menciptakan aksara Jawa yang kita kenal hingga
saat ini. Bagaimana kisahnya? Dahulu kala, di Pulau Majethi hidup seorang satria
tampan bernama Ajisaka. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti
mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa yang bernama Dora dan
Sembada. Kedua punggawa itu sangat setia pada Ajisaka. Pada suatu hari, Ajisaka
berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani
punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo
Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan pada Sembada,
tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali pada Ajisaka
sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya. Pada masa itu di
tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang
bernama Medhangkamulan. Rajanya adalah Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang
luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami
kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak
menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan
pada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu
serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk
menanyai Ki Juru Masak. Setelah mengetahui yang disantap tadi adalah daging
manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan
seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar
mempunyai kegemaran menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya
berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang
menganiaya. Negara Medhangkamulan berubah menjadi wilayah yang angker dan sepi
karena rakyatnya satu persatu dimangsa rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri.
Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang
bisa dihaturkan pada rajanya Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora,
tiba di Medhangkamulan. Ajisaka heran melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan
itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai
apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih
dan menyatakan kesanggupannya menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya
Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan
masih muda harus disantap Sang Prabu. Namun tekad Ajisaka sudah bulat, sehingga
akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa
orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk
menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan, ia rela dijadikan santapan sang Prabu
asalkan dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu,
harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut.
Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu
menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada
habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa mundur dan semakin mundur, sehingga
akhirnya tiba ditepi laut Selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan
Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah
menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan. Setelah
dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke
Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulau
Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk
mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia
berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga
melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan
kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama
sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai
keduanya sama-sama tewas. Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar
oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa
kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk
mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu. Aksara tersebut berbunyi: Ha Na
Ca Ra Ka = yang berarti Ana utusan (ada utusan) Da Ta Sa Wa La = Padha
kekerengan (saling berselisih pendapat) Pa Dha Ja Ya Nya = Padha digdayané
(sama-sama sakti) Ma Ga Ba Tha Nga = Padha dadi bathangé (sama-sama menjadi
mayat) Dari cerita ajisaka diatas kita bisa mengambil hikmah bahwa jika menjadi
seorang pimpinan ataupun ratu kita harus berhati-hati dalam berpesan Dan memberi
perintah kepada bawahan karena ucapan yang sudah keluar dari lisan tidak bisa
diubah Dan ditarik kembali (Sabda Pandhita Ratu)
Komentar
Posting Komentar